CV. Karya Utama Mandiri Energi

Solusi Energi Murah Dan Terbarukan Dengan Pemanfaatan Cangkang Sawit

Tanggal :02/11/2020 17.00.00 Penulis : Laurie Ponto

Indonesia sejatinya dapat memanfaatkan biomassa, khususnya cangkang sawit (palm kernel shell), limbah pabrik yang dihasilkan dari proses pengolahan Crude Palm Oil (CPO). Sebab limbah ini menjadi buruan beberapa negara, seperti Jepang, China, Korea Selatan, Taiwan, Thailand dan Polandia. Cangkang sawit dipergunakan sebagai sumber pembangkit listrik tenaga bioenergi. Tidak heran bila para pengusaha dalam negeri berlomba untuk mengekspor limbah ini.

Melalui ekspor, pemerintah memperoleh keuntungan lewat devisa. Nilai devisanya menembus angka 250 juta USD per tahun. Kontribusi pajaknya yang terdiri dari 7 USD bea keluar dan 15 USD sebagai pungutan sawit, telah mencapai 55 juta USD.

Namun disisi lain, program pengembangan energi ramah lingkungan melalui biomass cangkang sawit terabaikan, dengan minimnya (belum ada) insentif. Akankah kisah gas bumi bakal berulang pada cangkang sawit? Barang bagus (gas bumi) dijual murah, kemudian membeli barang jelek, dan harganya selangit.

Keunggulan Cangkang Sawit

Apa keunggulan biomassa dari cangkang sawit? Biomassa yang memiliki nilai komersial yang paling efisien bagi pembangkit listrik bioenergi adalah cangkang sawit. Pasalnya, selain karena kalorinya cukup tinggi, faktor logistik dan inventory yang mudah menjadikan Jepang concern terhadap biomassa Indonesia.

Hingga kini tercatat negeri Sakura tersebut mengimpor hampir 1,2 juta ton cangkang sawit per tahun. Dan ini makin bertambah karena jumlah pabrik pembangkit listrik bioenergi yang dibangun terus bertumbuh dan bertambah. Bahan bakunya ada yang 100 persen menggunakan cangkang sawit, ada juga yang 30 persen dikombinasikan dengan wood pellet dan 70 persennya cangkang sawit.

Hal lain yang membuat permintaan cangkang sawit sangat besar ke Jepang karena kebijakan pemerintah di sana, khususnya METI (Ministry of Economy, Trade and Industry). METI menjadikan cangkang sawit dalam FIT tariff sebagai biomassa. Bahkan mendapatkan insentif bagi perusahaan pembangkit listrik yang menggunakan cangkang sawit sebagai bahan baku baku. Per kWh memperoleh insentif kurang lebih 1,5 Yen.

Karena itu, masuk akal bila anggota APCASI yang berkontrak dengan perusahaan pembangkit listrik di Jepang, umumnya kontrak jangka panjang. “Ada yang berkontrak selama 15 tahun. Ada juga yang 10 tahun,” ungkap Dikki. Hal ini tentunya harus didukung dengan sustainable supply dan sustainable price (stable fix tax).

Biomass dari cangkang sawit sebagai sumber pembangkit listrik bioenergi bukan hanya diminati Jepang. Tapi juga negara-negara lain, seperti Taiwan, China, dan Thailand. Di negeri seribu Pagoda tersebut, pembangkit listrik biomassa cangkang sawit digunakan untuk industri pengolahan buah kalengan. Biomassa cangkang sawit ini juga diminati Polandia.

Sebagai informasi, Indonesia saat ini memproduksi 48 juta ton CPO per tahun. Bila dikonversikan CPO, hanya 23 persen dari buah sawit. Dan cangkang sawit adalah 5-6 persen dari buah sawit, maka produksi cangkang sawit di Indonesia mencapai sekitar 10 jutaan per tahun.

Respon Komentar

Belum Ada Komentar

Tinggalkan Komentar

kategori

Post terbaru

Komentar Terbaru

Tag

Bendera Indonesia Indonesia  |  Bendera Inggris English
Ingin menghubungi kami?
Klik tombol dibawah